Skip to content

Archive

Archive for December, 2005

Ada cerita nih dari kampungku, di Ranah Minang. Ya mungkin sebagian udah ada
yang pernah baca atau dengar cerita ini sehingga dah basi. Tapi bagi yang bukan
orang Minang, mungkin ini sesuatu yang baru … hehehehehehe..

Ceritanya begini :

Usman Chaniago, supir camat di Payakumbuh, minta berhenti karena akan merantau
ke Jakarta untuk mengadu nasib. Mula-mula dia bekerja sebagai tukang kantau
di Tanah Abang, setelah dapat mengumpulkan sedikit modal dimulai pula menggelar
dagangannya di pinggir jalan di Tanah Abang.

Nasib rupanya memihak kepadanya, beberapa tahun kemudian dia berhasil memiliki
kios kain di dalam pasar. Dia pun berkeluarga dan memiliki 2 anak. Tahun ini
dia membangun rumah di Depok, dilingkungan perumahan dosen UI. Karena tetangganya
semua akademisi, macam-macam gelarnya, ada Prof., ada Phd. dll. Usman merasa
malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya.

Dibuatlah Papan nama dari perak, dipesan dari Koto Gadang, dengan nama DR.Usman
Chaniago MSc. Ketika ayahnya datang berkunjung, sambil bangga dia bertanya di
mana anaknya kuliah, sebab setahu dia, Usman hanya berdagang. Dengan malu-malu
Usman menerangkan gelarnya di papan nama :

Disiko Rumahnyo Usman Chaniago Mantan Supir Camat
artinya :
( Disini Rumahnya Usman Chaniago Mantan Supir Camat / DR. Usman Chaniago MSc
)


…. ada-ada aja….

Inyiak (kakek)… semoga amal ibadahmu di terima di sisi-Nya Maafin Cucu
mu ini? Tidak cepat bertindak? Aku tidak sempat melepaskan kepergianmu? Sekali
lagi? Maafin Cucumu ini…

Jum’at, 25 Nopember 2005
Mama, Adik, Kakek dan Nenek datang ke Jakarta untuk menemui keluarganya termasuk
saya. Kakek dan Nenek ingin bertemu dengan saya, maklum sudah 6 tahun tidak
berjumpa. Sejak saya lulus SMA dan merantau ke Jakarta. Kedatangannya kusambut
dengan hati gembira. dan hari pertama dan kedua tidur di tempat dimana saya
indekost.

Selanjutnya Kakek dan Nenek berada di tempat saudara-saudara dari Kakek, dan
juga karena sudah lama tidak berjumpa. 2 hari akan keberangkatan Mama, Adik,
Kakek dan Nenek ke kampung halaman. Mereka kembali menginap di tempat saya indekost.

Kamis, 8 Desember 2005
Pada hari akan keberangkatan, Kakek mendadak minta di batalkan keberangkatannya
di karenakan kondisi kesehatannya menurun. Saya pun membatalkan tiket ke kampung.
Kakek menyuruh saya untuk tetap masuk bekerja. Saya pun berangkat dengan hati
yang kurang tenang karena kondisi Kakek.

Selang beberapa Jam di kantor, tepatnya jam 13.15… Handphone saya berdering,
handphone Mama, terdengar suara seberang yaitu suara tetangga… mengatakan
saya harus buru-buru pulang ke kosan karena Kakek koma. Setiba di indekost,
saya dapati Kakek sudah tidak ada tetapi badannya masih hangat … saat
itu juga saya menangis sejadi-jadinya … saya menyesal masuk kerja…
tidak memperhatikan kondisi kakek,.,.. Mama juga tidak tau harus berbuat apa
karena juga ikut menangis … pikiran saya Blank.. tidak tau apa yg harus
di lakukan … pikiran saya cuma satu .. bawa ke rumah sakit. Dengan Taksi
saya bawa Kakek dengan adik ke Rs. MH. Thamrin. Tetapi memang … Kakekku
sudah tiada.

Jum’at, 9 Desember 2005
Jam 4.00 Wib .. dini hari, Saya dan keluarga membawa Jenazah kakek ke kampung,
Bukittinggi menggunakan Garuda Indonesia. Selesai sholat jum’at kami semua
keluarga menguburkan kakek di tanah leluhur.

Inyiak,…. maafkan in yo nyiak .. in alah mambuek inyiak manderita , saharusnyo
in bawo inyiak ka rumah sakit katiko sakik, tapi in jo keluarga indak mambaok
inyiak ka rumah sakik. Ampuni in yo nyiak…

Ya Allah, ampuni dosaku karena aku zolim pada kakekku, aku zolim pada diriku,
maafin lah aku.
Ya Allah, Ampuni dosa-dosa kakekku, terimalah amal ibadahnya di sisi-Mu.
Lapangkanlah alam kuburnya, beri sinar lah alam goibnya ..
Masukkanlah kakekku ke Jannah -Mu … Amin…

Selamat Jalan Kek … Salamaik Jalan Inyiak…

Kaget..!!, yah itu yang daku rasakan 2 hari yang lalu. Senin, 5 Desember 2005,
daku mendadak di panggil ke Kantor Pusat. Wajah terasa panas, jantung berdebar-debar.
Karena, siapa saja karyawan mendadak di panggil ke Kantor Pusat untuk menemui
Divisi Sumber Daya Manusia (Divisi SDM) berarti ada masalah, kalo di pecat atau
dapat peringatan. Itulah image yang terbentuk di kantor dimana daku bekerja.
Daku mikir, ada apa, masalah apa yang sudah daku perbuat sehingga di panggil
oleh SDM. Jam 14.00 daku sudah harus di kantor pusat. Cukup lumayan menunggu
Kepala Divisi SDM. Janji akan bertemu jam 14.00 tapi terwujud jam 15.00 karena
beliau baru bisa datang jam segitu.

Oooh. Jantung terus berdebar-debar apalagi ketika akan membuka pintu ruangan
beliau. Daku pasrah apa yang akan terjadi. Ketika di persilahkan duduk. Beliau
senyum, tanpa basa basi beliau langsung menyodorkan sepucuk surat yang tertera
: "BERITA ACARA SERAH TERIMA". Daku masih bingung ada apa gerangan,
beliau menyuruh daku untuk membaca denga teliti. Daku langsung kaget … seperti
pepatah , bagaikan di sambar petir di siang bolong … hehehe .. tapi gak gosong
dong … :) ) … Daku dapat Motor boooooooo’…. mata ku berkaca-kaca, tidak
menyangka, Boss (Kepala Biro) daku pun gak pernah bilang-bilang kalo aku akan
di kasih motor. Beliau (Kepala SDM) tersenyum, "iya .. kepada Pak Indra
kami serahkan satu sepeda motor", ujar beliau. Dalam hati daku bersyukur,
jika beliau tidak ada di depan daku, daku pengen nangis…. Daku ingat, bahwa
hari sabtu daku mau beli motor, tapi Allah berkehendak lain. Daku di kasih motor
sama kantor.

Daku gak habis pikir, kenapa daku di kasih motor, padahal masih banyak senior-senior
daku yang patut di beri. Kenapa daku yang di kasih. Daku berprasangka baik,
bahwa ini adalah hasil kinerja daku selama mengabdi di kantor ini. Daku juga
bersyukur mempunyai Boss sebaik dia. Kebetulan ibu ada di jakarta, ibu pun terharu.
Kakek dan nenek juga gembira, sudah 6 tahun tidak berjumpa dengan daku. Akhirnya
bisa berjumpa. Apakah ini suprise buat daku dan buat orang-orang yang daku cintai
seperti ibu, kakek dan nenek yang kebetulan sedang berada di jakarta untuk menemui
daku.