Featured Posts

php-logoCentOS : Cara Upgrade dari PHP 5.1.x ke PHP 5.3 Sejak CentOS 5.6 dirilis, paket PHP 5.3 sudah ada. dibawah ini bagaimana cara upgrade PHP 5.1.x menjadi PHP5.3 Pertama stop terlebih dahulu Apache Web Server: #service httpd stop Hapus paket-paket...

Read more

iptablesCara Membuka Port di Firewall Linux CentOS Secara default firewall iptable menyimpan konfigurasi di /etc/sysconfig/iptables . Anda dapat mengedit file tersebut dan menambahkan  aturan/rules untuk membuka nomor-nomer yang ada pada port. Konfigurasi...

Read more

ubuntuForce Monitor Resolution on Ubuntu 10.10 Ketika Distro Ubuntu 10.10 release, saya langsung coba install pada komputer lama. Ternyata saya dapatkan resolusi monitor tidak sesuai dengan monitor saya yaitu 1440x900 pixel. Selalu yang didapat 800x600...

Read more

twitter-bird-2Rangkuman Tweet Malam oleh Fahri Hamzah tentang KH... Bagi yang tidak sempat ngTweet, ini saya rangkum Tweet Malam oleh Fahri Hamzah tentang KH Hilmi Aminuddin. Dibaca dari paling bawah ke atas, 1# -> 100# Semoga bermanfaat. ------------------------- 100kita...

Read more

Jilbab “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang shaleh.” (Rasulullah SAW) “Segala sesuatu ada penegurnya, dan penegur hati adalah rasa malu!” (Rasulullah SAW) “Perempuan...

Read more

  • Prev
  • Next

Twitter Updates...

  •  

Luka Kaum Wanita Palestina

Category : Story

1

Pendudukan Israel di sepanjang jalur Gaza dan Tepi Barat Palestina, membuat kehidupan wanita Palestina sangat menderita. Amnesty International, dalam laporan terbarunya tentang kondisi kaum wanita Palestina menyebutkan, keberadaan pos-pos tentara Israel, penghancuran rumah dan hukuman penjara telah menimbulkan dampak yang buruk bagi kaum wanita di Palestina.

“Sudah terlalu lama mesin-mesin militer Israel memporak porandakan kehidupan wanita Palestina, Pemerintah Palestina sekarang ditantang untuk memberikan perlindungan yang layak terhadap hak-hak kaum wanitanya,” ujar Direktur Amnesty International yang berbasis di Inggris, Kate Allen.

Dalam kurun waktu empat setengah tahun, kekerasan terhadap kaum wanita dan kejahatan seks di Palestina terus meningkat, demikian salah satu isi laporan Amnesty Internasional.

Laporan setebal 36 halaman itu juga menyebutkan, banyak wanita Palestina yang dipaksa untuk melahirkan di pos-pos tentara Israel yang bertebaran di wilayah Palestina, dan mereka tidak diperkenankan ke rumah sakit oleh tentara Israel yang menjaga pos-pos tersebut. Akibatnya, banyak ibu-ibu yang melahirkan kehilangan bayinya.

“Saya berbaring di tanah yang berdebu dan merangkak ke belakang dinding pos keamanan Israel, mencari tempat aman untuk melahirkan, di atas pasir, seperti hewan. Saya memeluk bayi saya, ia bergerak sebentar tapi beberapa menit kemudian dia meninggal dalam dekapan saya,” kisah Rula Asthiya mengenang pengalaman pahitnya yang terjadi pada tanggal 26 Agustus 2003. Dengan menahan tetesan air mata, ia menceritakan bagaimana ia terpaksa melahirkan di pos militer Israel karena tentara Israel tidak memberinya izin melewati pos agar bisa melahirkan di Rumah Sakit Nablus.

Apa yang dialami Rula, baru sebagian kecil dari sekian banyak penderitaan yang dialami kaum wanita Israel. Mereka juga kerap mengalami ketakutan dan kehilangan rumahnya akibat tindakan tentara Israel. Menurut laporan Amnesty International, buldoser-buldoser Israel telah menghancurkan sekitar 4.000 rumah milik warga Palestina, akibatnya ribuan warga yang kebanyakan wanita dan anak-anak kehilangan tempat berteduh. Tak jarang, tentara Israel menggusur rumah-rumah warga Palestina meski penghuninya masih berada di dalam rumah. Warga Palestina banyak yang hidup dalam kemiskinan karena tanah-tanah pertanian mereka dirusak oleh tentara Israel.

Kekejaman tentara Israel terhadap warga Palestina, oleh utusan khusus PBB John Dugard dinyatakan sudah masuk dalam kategori pelanggaran berat hak asasi manusia. Organisasi bantuan PBB, UNRWA pernah membuat laporan tentang kondisi hak asasi manusia di Palestina akibat kekejaman dan perusakan infrastruktur milik warga sipil di Palestina.

Laporang UNRWA menyebutkan, di wilayah Rafah saja, tentara Yahudi itu sudah menghancurkan sekitar 1.728 rumah yang menyebabkan sekitar 17.400 warga Palestina menjadi tuna wisma. “Buldoser Israel merusak rumah-rumah itu dengan alasan yang tidak jelas. Mereka juga merusak jalan-jalan, aliran listrik, persediaan air bersih dan selokan,” ujar Dugard.

Kondisi bangsa Palestina, terutama kaum wanita dan anak-anaknya memang sangat menyedihkan dibawah pendudukan tentara Israel. Organisasi hak asak manusia di Israel, B’T Selem dan HadMoked Center bahkan menuduh tentara Israel sedang mengubah Jalur Gaza menjadi sebuah penjara besar dengan melakukan pemiskinan bagi warganya. Organisasi itu juga menyebutkan, akibat kekejaman tentara Israel lebih dari 77 persen warga Palestina di Jalur Gaza hidup dibawah garis kemiskinan. Sementara itu, menurut data statistik PBB tahun 2002, jumlah pengangguran di Tepi Barat dan Jalur Gaza meningkat 50 persen.

Para Ahli Arkeologi Temukan Perahu Kuno Mesir

Category : Story

1

Para ahli archeologi telah menemukan sisa-sisa perahu yang digunakan oleh orang Mesir kuno untuk berlayar sambil berdagang, Menteri kebudayaan Mesir mengatakan Kamis.

” Perahu kuno tersebut ditemukan di dalam gua di kota pelabuhan zaman Firaun yang terletak di pantai Laut Merah sekitar 475 km ( 300 mil) tenggara Kairo , ” kata Faruk Hosni yang mengomentari berita yang disiarkan kantor berita Mesir , MENA .

Perahu-perahu tersebut digunakan untuk mengangkut barang dari dan ke wilayah Land of Punt, yaitu wilayah yang disebut-sebut dalam tulisan Mesir kuno yang diperkirakan oleh para ahli archeologi sebagai wilayah utara Afrika pada masa sekarang.

“Hasil penggalian menemukan sejumlah layar perahu berikut talinya , serta bagian badan perahu yang terbuat dari balok kayu serta papan -papan tipis terbuat dari kayu pinus yang didatangkan dari wilayah Suriah utara,” kata MENA mengutip Zahi Hawas ketua lembaga tinggi barang dan karya Antik.

Hawas mengatakan kelompok peneliti yang menemukan hasil temuan Mesir kuno tersebut adalah kelompok peneliti kepurbakalaan dari Universitas Boston Amerika Serikat yang bekerja sama dengan kelompok peneliti dari Itali.