Sepenggal Cerita Pilkada Jakarta

Written by Indra Chaidir | 2,433 views

Jakarta adalah jantung ibukota, Jakarta adalah cermin dari sebuah Negara Indonesia. Jika ia bagus maka bagus dimata dunia, dan jika buruk maka buruklah image dimata negara diluar sana. Jakarta memang harus di perbaiki, dalam 1 dekade (10 Tahun) ini belum tampak perubahan sampai sekarang. Saya yang baru 9 Tahun tinggal di Jakarta , tidak melihat sama sekali perubahaan itu pada diri ibukota ini. 2 kali merasakan banjir besar, macet bertambah, sekarang apalagi. Pengangguran ?… apalagi. Yang kaya bertambah tajir :p, yang miskin tambah melarat :(. Ruang hijau sudah tidak nampak lagi. Negeri ini penuh hutan beton.

Ya Pilkada, saat ini lah moment untuk dapat memperbaikinya, yaitu memilih pemimpin yang dapat membawa ibukota ini ke perubahaan yang baik. Jika kita melihat, memang hanya 2 pasangan calon pemimpin. Saya suka mengamati gejala politik baik yang buruk maupun yang baik ketika musim pilkada/pemilu datang. Gejala permusuhan, koalisi, ada yang independen. Sangat disayang sekali ketika seorang calon pemimpin yang mendeklarasikan dirinya sebagai calon yang menang dengan secara bermartabat, tetapi disitu pulalah ia lupa, bahwa ia dan koalisinya meracuni otak masyarakat , membunuhi aspirasi masyarakat dengan issu keagamaan, suku, sekte atau aliran.

Sebagai contoh, kita ketahui di Jakarta ada dua calon, yaitu 1. Adang-Dani yang di usung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), 2. Fauzi-Prijanto (+- 20 Partai). Dilihat angka parpol pendukung, sangat mencolok sekali. Seolah-olah PKS di keroyok, dimusuhi, di takuti. Fenomena apa ini ? Sangat Tidak Demokratis. Mata dunia terbuka, kaget !. Satu partai di keroyok. Kemundian di fitnah dengan issu ke agamaan. Memang benar PKS adalah partai yang berbasis keagamaan, Islam. Mereka mendeklarasikan sebuah Partai Dakwah. Disisi lain. Apakah mereka yang meyebarkan issu itu bukan Islam?. Pasangan ke 2. ingin menang dengan cara bermartabat. What ? Jadi apa negri ini jika di pimpin seseorang yang tampuk kepimpinan yang direbutnya dengan cara yang tidak baik. Negri ini akan rusak.

Kemudian, kita juga mengetahui. Dalam 1 dekade ini belum ada perubahaan, selama ini kemana saja pemimpin itu yang saat ini ikut dalam pencalonan. Negeri ini butuh yang Segar, Fresh, butuh yang baru. Cukup 10 tahun kita bisa menilainya.

Saya sempat dialog dengan beberapa teman saya baik dari pendukung Adang , juga teman saya yang mendukung Fauzi. Mengenai pilkada ini, tapi ada satu yang membuat saya terharu, dan salut. Dia dulunya mahasiswi saya, sekarang bisa dibilang satu profesi dengan saya, saya sebut saja namanya: simply :p, berikut petikan dialog dengannya,

Indra : nyesak banget ya
Simply : gak juga
Simply : kemaren saya juga di kerubut sama org2 kumis
Simply : difitnah segala malahan
Simply : katanya pks itu agama baru dll
Simply : udah gitu saya sendirian lagi
Indra : seech… bilang gitu
Simply : hooh
Indra : rt berapa ?
Simply : 10-16
Simply : saya si nyantai aja
Indra : kenapa gak saya ya
Simply : trus pas perhitungan juga gitu
Indra : rt itu kan pada kenal saya
Simply : saya juga kenal
Simply : kpps nya baek2
Simply : tapi orang yg di luar itu
Simply : trus pas ngitung
Simply : mereka bilang gini
Simply : “yaaa si adang palingan cuma 3 biji”
Simply : trus orang2 disitu disuruuh kalo 2 di tepokin yee, kalo 1 di huuuuuuuuu
Simply : ;))
Simply : saya senengnya karena
Simply : sebelum mereka bilang huuuu
Simply : begitu 1 disebut saya udah teriak duluan “Allahu Akbaaaaar” sendirian dan kenceng, dan orang2 jadi bengong ;))
Simply : ga sempet bilang hu….
Indra : hahahaha…
Simply : alhamdulillah disitu bedanya cuma tipis 156 188
Simply : yg bikin saya mau nangis karena terharu
Simply : tadinya saya pikir, indah cuma sendirian
Simply : tapi pas hitungan adang sampe puluhan, warga disitu ikut takbir
Simply : trus bilang ” ayooo adang… ayo.. balap ” sampai bikin provokator kumis keseeel

Sampai disitu dialog saya terputus, karena mau melanjutkan pekerjaan. Inti begitu jelas banyak intimidasi dari yang dominan terhadap minoritas. Tapi saya salut dan terharu, melihat perolehan suara. Angka Adang-Dani dibanding Fauzi-Prijanto tidak begitu terpaut jauh. Saya ingat, Adang-Dani Cuma didukung 1 Partai, sedangkan Fauzi-Prijanto didukung lebih kurang 20 Partai. Sangat mengejutkan sekali walapun Adang-Dani kalah suara. Sekali lagi Fenomena. Jika issu black campaign di hembuskan, kenapa masih banyak yang percaya dan memilih PKS. Artinya partai ini baik dan sangat menyejukkan.

Saya masih ingat dan baca selebaran semacam Majalah, yang bertulisakan Jakarta Untuk Semua, yang mana isinya menjelek-jelekkan Adang-Dani. Intinya ke arah agama. Apakah yang mereka takutkan ? Islam ? … padahal mereka Islam. Dan saya masih ingat debat dengat seorang Profesor soal black campaign yang ia tebarkan, dia seorang ketua salah satu mesjid di bilangan salemba, dia meng-Aneh-kan pakaian para wanita-wanita kader PKS memakai jilbab menutupin aurat, salah kah ? Saya bilang: apakah salah dengan cara berpakaian seperti itu ?, mereka islam, bapak islam gak ?, bapak seorang ketua mesjid, bapak seorang kader lembaga dakwah muh… (upps.. maaf gak ditulis :d ) ,.. apa pantas bicara seperti itu ? di al-quran jelas-jelas di wajibkan berpakaian seperti itu, Wajib!. Jangan permasalahkan pakai orang lain, perbaiki dulu diri sendiri dan keluarga bapak (red: istri nya cuma pakai selendang). Ketika itu bapak gak bisa balas, eh dia pakai bahasa padang (Bahasa Minang), .. ooo rupanya dia orang padang, Ciiiiiiiiat (kata saya .. boong deh :p) … dia gak tau saya orang MINANG ASELI…. Balas deh pake bahasa Minang, kaget lagi dia, Pucat. Akhirnya debat itu berhenti seiring Azan Ashar. Kalo di lanjuti bisa stroke itu Professor :)).

Saya jadi ingat Sabda Rasulullah (lupa bacaannya), intinya begini : Ketika kedatangan awal Islam di anggap Aneh, begitu pula diakhir nanti Islam di anggap Aneh.

Wassalam …

Related Posts

Put your related posts code here
  1. 9 Responses to “Sepenggal Cerita Pilkada Jakarta”

  2. By indri on Aug 9, 2007 | Reply

    huahh…bingung….
    [koment kedua sih..hehe]

    ada kopian majalah yg black campaign gak?? bagi satu dong

  3. By Devy Ferdiansyah on Aug 9, 2007 | Reply

    10 tahun dah lewat, apa yang terjadi? kini kita harus menjalani lagi 5 tahun kedepan dengan orang, sistem dan borok yang sama, knp ya orang lebih suka memilih “kebanyakan” seperti “… ikuti saja kemana air mengalir…”, wong salah kok diikuti. apakah hati nurani bangsa ini dapat sedemikian mudahnya di gadaikan hanya demi rupiah? apa yang salah? saya bukan penduduk jakarta tapi hampir tiap hari sy mengalami “carut marut” nya jakarta. apakah mereka yang selama 10 tahun kemarin mengalami hal2 yang tidak mengenakan tidak menyadari kalau mereka akan menghadapi kembali 5 tahun yang sama oleh orang2 bobrok yang sama? Sungguh ironis, apa yang bangsa ini cari? atau kah mereka telah terbisa dengan keadaan yang tidak biasa ( macet, banjir…), sy jadi bertanya2 apa sih isi otak mereka?pantas saja otak orang indonesia itu harganya paling mahal, karena saking mahalnya gak ada yang mau pakai, memalukan…

  4. By Devy Ferdiansyah on Aug 9, 2007 | Reply

    Si Bapak turun, wakilnya naik….
    kayanya kejadian ini pernah terjadi deh… wah wah wah, say jadi teringat dengan apa yang dikatakan seorang motivator “Soft Skill” pada seminar soft skill di kampus BSI tempo hari, waktu itu dia berkata kalo 10 tahun yang lalu dia pernah mengantarkan anaknya yang mau masuk kuliah mencari tempat kost, beliau bilang beliau pernah sakit hati krn waktu dia menanyakan pada temannya mau kost dimana anaknya?di jawab kalo temannya itu sudah membelikan rumah buat anaknya mau kuliah, beliau kaget dan sakit hati bukan kepalang, sombong amat…. katanya dalam hati..
    jelas2 hatinya berpikir saya mana sanggup, beliau tidak pernah berpikir kalo itu bisa dijadikan sebagai cambukan yang dapat membakar semangatnya untuk bisa melakukan hal yang sama dimasa mendatang, krn dia berpikir gak mungkin dia bisa lakukan itu, sampai akhirnya pada saat sekarang 10 tahun kemudian dia masih harus mencarikan “kembali” tempat kos anaknya yang mau masuk SMA. dia menyesal knp waktu itu dia gak buat target dan berusaha lebih keras…
    apakah bangsa ini sudah “terbiasa” melakukan hal2 yang “biasa” atau pernah terjadi? “Si bapak turun, wakilnya naik…” trus apa yang beda?sama aja!!!
    yang ada wakilnya pasti akan meneruskan rencana si bapaknya, dan lebih parah, sama seperti bangsa ini dimana pemimpinnya masih anak asuh dari si bapak yang duluuuuu…. ya udah si bapak dengan enaknya di rumah sambil ngopi makan pisang goreng ikut nyetir bangsa ini melalui si wakilnya……
    iya gak?P Project (“leng geleng geleng geleng..)mau dibawa kmana bangsa ini?atau harus kah kita bersama menangis?ingat janji2mu wahai pemenang, sekali saja kau ingkari sumpah serapah rakyatmu kan kau bawa ke alam sana, ingatlah….

  5. By Devy Ferdiansyah on Aug 9, 2007 | Reply

    Saya jadi penasaran, jakarta banjir lagi gak ya, tapi yang bikin sy penasaran kalo sampe terjadi lagi ( mudah2an gak) dulu sutiyoso bilangnya “.. Ini fenomena alam..”, kalo wakilnya nanti bilangnya apa ya”, apa dia bakalan bilang “..saya sedangan berusaha benahi jakarta, lagi pula ini siklus 5 tahunan, jadi ini rutinitas alam…” hahaha

  6. By Devy Ferdiansyah on Aug 9, 2007 | Reply

    atau kah dia bakalan bilang “… Ini nasib Jakarta…”
    — Sekian —

  7. By Pejuang Tanpa Lelah on Aug 10, 2007 | Reply

    ikhwhfillah..Mari Sambut Kemenangan Qt..Kemenangan Da’wah..Jangan Pernah ada di Kepala Qt, Qt tlah Kalah..Qt MENANG..Sahabat LIHAT!!Betapa kuatnya Da’wah Qt…SENDIRI saja..Qt dpt lebih dr 40%, SENDIRIAN…Akhi wa Ukhti…Mereka…??? 20 Partai dengan bantuan sana sini CUMA 50%nan, Tidak seimbang dengan koalisi mereka!!! Itulah yang membedakan Qt dengan mereka, BEDA AIR GULA Dg BUIH!!.. TRAGISS!!.. Mereka menang biasa, tp Qt bisa 40% Itu LUAR BIASA !! hari ini mereka gembira, tp Pd dasarnya, Mereka sedang takut se takut2nya, Gentar se gentar2nya… dengan Qt… Bayangkan saja cuma 50%nan…Ikhwah…BANGKIT!!! Qt s0ngs0ng kemenangan Da’wah ini….ALLAHU AKBAR…!!!

  8. By Penyambung Lidah B'T on Aug 10, 2007 | Reply

    Bang Tifatul pernah berkata :
    “Jika menang, kita harus merendah dan jika kalah mesti legowo. PKS

  9. By simplynda on Aug 13, 2007 | Reply

    Perjalanan kita masih panjang pa’e 😀

Post a Comment

I am Indra

was born in Jambi, May 24th 1978. But I spend my childhood till teen in Bukittinggi City and finised my elementary and high school there too. Currently living at Jakarta, Indonesia. Now one I am working as a Web Programmer and as a Lecturer. More



Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :