Archive for the ‘Oase’ Category

Arti Seorang Sahabat

Saturday, October 8th, 2005 | 6,150 views

Akan merasa sunyi seorang yang tidak memiliki sahabat, dan sia-sia orang yang menahan diri untuk tidak mencarinya. Lebih sia-sia lagi, orang yang telah mendapatkan sahabat, kemudian ia menyia-nyiakannya.
(Hilal bin ‘Ula Al-Raqy)

Matahari sudah condong ke sebelah barat. Berdua dengan Sari, saya menyusuri
jalan menuju stasiun. Pengumuman kereta akan segera datang telah terdengar,
kami berdua semakin mempercepat langkah. Alhamdulillah masih bisa dikejar. "Kamu
sudah beli karcis belum," tanya Sari. "Nggak sempat, nanti kucing-kucingan
saja kalau ada petugas," jawab saya ringan, kaki sudah hampir masuk ke
gerbong, tapi Sari malah menarik saya menjauhi kereta. Kereta berangkat. "Kenapa
ngga beli karcis dulu," kali ini mukanya agak keruh. "Kan ngga sempat,
lihat tuh, mana antri lagi, males," mata saya mengarah ke tempat penjualan
karcis. "Ya sudah tunggu disini."

Sari bergegas pergi, dan dengan tidak enak hati saya memandangi punggungnya
yang menjauh. "Berapa lama, waktu antri untuk membeli karcis," katanya
ketika tiba di hadapan saya, tangannya menyodorkan karcis. "Sepuluh menit"
singkat saya. "Gara-gara sepuluh menit, kamu bisa jadi antri di neraka".
Drrrrr, gemetar juga ditembak telak seperti itu. "Dan saya nggak mau ikut-ikutan
antri disana, gara-gara nggak ngingetin kamu," tambah Sari. Saya diam,
kena setrum sepertinya. "Sudahlah, lain kali jangan curang!" perintahnya,
kali ini dia memandang saya penuh arti.

Kalau terkenang dengan peristiwa tadi, saya selalu bergumam "Alhamdulillah…
saya mempunyai sahabat". "Eh ada yang kangen ingin berjumpa dengan
mu lho, mendengar rayuan mautmu, melihatmu mengemis memohon cinta. Ayo bangun.
Tahajud euyy!!!" itu isi SMS dari seseorang yang baru saya kenal beberapa
bulan. Pesan yang terus menerus dikirimnya selama hampir 1 minggu, pada jam
03.00 pagi, tidak kurang. Sebuah SMS yang sebelumnya diawali dengan misscall
beberapa kali. Awalnya saya sempat merasa terganggu dan menyembunyikan HP dibawah
bantal agar bunyinya tidak terdengar.

Ketika saya membalas SMS-nya dengan "Tidak sayang pulsa tuh, mengganggu
ketenangan orang", SMS-nya pun datang, "lho katanya kamu sedang punya
banyak masalah". Sangat singkat, mengingatkan bahwa 2 hari yang lalu saya
curhat kepadanya.

Sekarang, kala mengingatinya, juga selalu hati ini berujar "Alhamdulillah,
saya memiliki sahabat yang demikian….". Ini kisah yang saya dengar dari
seorang muslimah. Suatu ketika, dia dan alumni pengurus Rohis SMA, berkumpul.
Salah seorang rekan dari pengurus semasa Rohis (sebut saja A) baru saja meninggal,
dan mereka baru tahu keadaan ekonomi keluarganya ketika melayat ke rumah A.
Ternyata A ini tulang punggung ekonomi keluarganya, selain yatim, ibunya hanya
berjualan ala kadarnya. Ibunya bercerita, salah seorang adiknya hampir mau ujian
tapi karena tidak ada biaya, akhirnya gagal merampungkan sekolah.

Dibahaslah solusi untuk meringankan beban ibunda A, dengan sebelumnya beberapa
rangkaian taushiyah bergulir. Semua yang hadir larut, banyak air mata di sana.
Air mata cinta. Diakhir pertemuan, terkumpullah materi yang tidak sedikit, perhiasan,
uang, sepeda motor, sepeda, dan sepasang sepatu baru. Kita pasti tahu kisah
selanjutnya, si ibu tak henti menangis, dan hampir tersungkur di hadapan mereka.
Allahu Akbar.

Sungguh kisah tadi seperti pesan yang disampaikan seorang ulama, "Persahabatan
antara orang-orang mukmin, menyatunya kalbu mereka, dan kecintaan yang terjalin
diantara mereka merupakan karunia Allah bahkan juga termasuk taqarrub, dalam
ketaatan yang paling agung
" Dan Alhamdulillah, Almarhum A ini mempunyai
sahabat seperti mereka…

Dunia menjadi penuh makna ketika kita mempunyai banyak sahabat. Dunia menjadi
berpelangi tatkala banyak sahabat mengelilingi kita. Kahlil Gibran menyebut,
"Kesendirian adalah himpunan duka cita". Tentu saja, karena
manusia dicipta untuk hidup dalam kebersamaan, seperti firman Allah, "Wahai
sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian (terdiri
dari jenis) laki-laki dan perempuan, dan Kami menciptakan kalian bersuku-suku
dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia
diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa
." (QS. Al-Hujurat:13).

Sekali lagi, banyak hikmah yang dapat kita reguk dari persahabatan. Dan juga
perlu diingat, kita harus cerdik pula dalam memilihnya. Dalam era sekarang ini,
ketika ‘fenominul’ begitu menyesakkan hati umat Muslim, menjamurnya narkoba,
pesta muda-mudi, sepertinya kita butuh filter ampuh untuk memilih sahabat. Dan
filter itu bisa begitu ampuh ketika kita mempunyai sahabat yang mampu mendekatkan
diri kita kepada pemilik dari segala filter, Allah.

Memilih sahabat bukan berarti membeda-bedakan manusia. Memilah sahabat berarti
kita menilainya dari karakter dan sifat yang dimilikinya. Sebuah persahabatan
yang nantinya akan terjalin juga tidak seharusnya didasarkan pada parameter-parameter
duniawi saja. Sungguh, ketika kita berjumpa dengan seorang yang berakhlak baik,
menjaga shalatnya, maka itulah parameternya. Dan itulah yang dilakukan orang-orang
shalih terdahulu dalam menimbang siapa saja yang pantas menjadi sahabat baginya.

Ayo, pikatlah sahabat sebanyak yang kita mampu. Sahabat yang tidak menjadikan
kita, manusia yang disebut-sebut Al-Qur’an, "Pada hari si zhalim menggigit
kedua tangannya seraya berkata: Ah, seandainya aku mengambil jalan bersama-sama
Rasul. Malang nian, mengapa dulu aku menjadikan si fulan menjadi sahabat akrabku
".
(Al-Furqan 27-28)

Dan jangan lupa, "shalih sendiri" juga tidak bermanfaat, jadi pikatlah
sahabat yang ketika dia mengenang kita, dia akan berujar "Alhamdulillah,
saya mempunyai sahabat sepertimu…"

Akhirnya, saya sampaikan salam keselamatan untukmu yang berkenan membaca tulisan
ini. Izinkan saya menyebutmu sebagai "sahabat". Saya ingin menggelarimu
"sahabat", panggilan mesra Nabi al-Musthafa pada generasi setia di
zamannya, sapaan akrab terdengar begitu merdu. Sebuah kosa kata indah yang saya
temukan dalam buku "Berbagi cinta dengan para Sufi" sebagai kiasan
bertubi untuk orang yang paling mempunyai makna. Dan sekarang, saya ingin mengadopsinya
untuk anda yang sekali lagi berkenan membaca tulisan ini. Sahabat, semoga Anda
membendaharakan kata ini juga untuk saya. Dan ketika anda menjadi sahabat, tak
akan pernah jengah anda memperingatkan, ketika saya salah melangkah.

(Disadur dari milis.)

Sholat Berjama’ah

Tuesday, September 27th, 2005 | 2,138 views

Dari Ibnu Mas’ud r.a. berkata : "Barang Siapa yang ingin bertemu dengan Allah ta’ala sebagai seorang muslim maka ia harus benar-benar menjaga sholat-sholat ketika terdengar suara adzan.
Sesungguhnya Allah telah mesyariatkan kepada Nabi Saw. sunanul huda (tuntunan-tuntunan
yang penuh petunjuk) dan sesungguhnya shalat jama’ah itu termasuk sunanul huda.
Seandainya kamu sekalian shalat di rumahmu sebagaimana kebiasaan orang yang tidak
suka berjama’ah niscaya kamu sekalian meninggalkan sunnah Nabi niscaya kamu tersesat.
Sungguh pada masa Nabi tiada seorangpun tertinggal dari shalat berjama’ah kecuali
orang munafik yang jelas-jelas munafik.
Dan pernah terjadi ada seorang didukung
oleh dua orang sehingga ia bisa berdiri pada suatu shaf" (Hadist Riwayat
Muslim).

Dari Ibnu Umar r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : "Shalat jama’ah
itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat."
(Riwayat Bukhari Muslim)

Penghancur Persaudaraan

Tuesday, August 2nd, 2005 | 956 views

Bersaudara merupakan ciri dari orang yang beriman. Dan bersatu, bersaudara adalah sesuatu yang agung dan mulia. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: ?Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara?.(Al-Hujurat:10).

Ukhuwah kaum mukminin adalah ukhuwah dan jalinan tertinggi, yang bisa diadakan diantara manusia. Ukhuwah kaum mukminin adalah jalinan akidah yang lebih kuat dari jalinan nasab. Ukhuwah mendatangkan karunia, pahala besar, mendekatkan para pelakunya kepada-Nya, dan mencintai mereka. Di antara tujuh kelompok yang dinaungi Allah ta’ala dibawah naungan-Nya pada hari kiamat ialah dua orang yang saling mencintai karena Allah. Keduanya bertemu dan berpisah karena-Nya. Namun syetan tidak akan rela dengan hal tersebut. Syetan akan menyesatkan anda dengan membuat saudara-saudara anda marah kepada anda. Syetan juga memenuhi hati dengan perasaan benci kepada sudara-saudara anda, dakwah dan majlis-majlis ilmu. Selanjutnya anda akan menjadi santapan lezat syetan dan mangsanya tanpa mampu bergerak berontak.
Sekarang ada problem serius yang mengancam eksistensi kehidupan manusia, yaitu hilangnya keharmonisan diantara manusia, hingga seolah-olah setiap kali zaman berganti dan modernisasi berkembang pesat, maka pemutusan hubungan, kekerabatan atau persaudaraan, juga meningkat tajam. Keharmonisan menjadi sesuatu yang mahal dan sulit dirasakan, kehidupan sangat menjemukan, gersang dan keras, tanpa ada spirit dan makna di dalamnya. Keharmonisan tidaklah diangkat (hilang) sekaligus, tetapi ada sebab-sebab pencetus yang menjadi sebab hilangnya keharonisan. Oleh karena itu kita harus mengetahui kiat bagaimana menjaga keharmonisan, dan mengetahui apa saja yang merusak keharmonisan agar kita waspada dan menjauhinya.

Penghancur-penghancur persaudaraan tersebut adalah:
1. Rakus kepada dunia dan asset manusia
2. Malas beribadah dan melanggar syari’at
3. Tidak memperhatikan etika ketika bicara
4. Cuek
5. Pembicaraan rahasia
6. Fanatik dengan pendapat diri sendiri dan tidak siap mendengar nasehat atau masukan orang lain
7. Sering berbeda ucapan, perbuatan, dan keinginan dengan saudara, sombong dan kasar
8. Memberi nasehat di depan umum
9. Banyak mencela, tidak tolerans, hanya melihat sisi-sisi negatif tanpa sisi-sisi positif, dan tidak memaafkan kesalahan
10. Mendengarkan perkataan tukang fitnah dan pendengki
11. Menyebarkan rahasia
12. Menuruti dugaan
13. Campur tangan dalam masalah-masalah pribadi
14. Egois, angkuh, tidak peduli dengan problem saudara, masa bodoh dengan kondisi dan kebutuhannya
15. Membebani dan memberatkan saudara serta memantau terus pelaksanaannya akan hak-hak ukhuwah terhadap anda
16. Tidak serius menampakkan cinta atau apa saja yang menunjukkan dan meningkatkannya, serta tidak membela saudara ketika tidak berada di tempat
17. Tidak memperhatikan saudara karena sibuk dengan orang lain dan jarang menepati janji
18. Unjuk diri, jabatan dan ambisi kekuasaan atas obyek dakwah; dan menjadikan teman sebagai jembatannya
19. Tidak menepati janji dan kesepakatan tanpa udzur urgen
20. Anda sering membicarakan hal-hal yang menggelisahkan dan menyampaikan hal-hal yang menyusahkan saudara anda
21. Berlebih-lebihan dalam mencintai.

Oleh : Erni Yusnita & NN
Sumber : Perusak-Perusak Persaudaraan, Abu Ashim Hisyam bin Abdul Qadir, Darul Falah Cet. Pertama, Syawal 1422/ Januari 2002 M

__________________
Ibnu Yunus Al Andalasy
Ya Allah berikanlah hidayah & petunjuk Mu selalu kpd kami. Bukakan pintu hati ini menuju syurga Mu. Pahamkanlah kami dgn Ilmu Mu yg benar.& ampunilah dosa kami. Amin

Perempuan Terbaik

Monday, July 25th, 2005 | 774 views

Wahai bunda
hanya Tuhan saja yang dapat membalas jasamu erana Tuhan saja yang tahu penderitaanmu
(Nasyid dari Nowseeheart)

Saat itu saya masih empat belas tahun. Untuk pertama kalinya, saya harus berpisah ‘jauh’ dengannya, perempuan terbaik yang pernah kenal. Tatkala tangan-tangan itu melambai, rasa bersalah berdentam-dentam di rongga dada. Ugghhh… kenapa saya tega meninggalkannya sejauh itu. Belum terbayang, kapan lagi saya akan kembali bertemu dengannya.

Sebelum perpisahan jarak ‘jauh’ itu, jarang sekali bunda enggan memberi izin, bila saya minta izin bepergian. Suatu ketika, saya pamit untuk pergi camping, mengikuti kemah pramuka Sabtu-Minggu di dekat gua stalagnit di kampung kami. Untuk pamitan dua hari itu pun, izinnya didapat dengan alot sekali.

“Hati-hati ya nak… jangan merusak alam, jangan berbuat macam-macam hati-hati… jangan…”

Berkali-kali nasehat itu diperdengarkan, risau sekali beliau akan keselamatan puteranya. Padahal, namanya juga acara anak SD, camping perkemahan Sabtu-Minggu itu di back-up puluhan guru pembina. Jumlah guru yang menyertai camping hampir sama banyak dengan jumlah murid, sebagai bukti keseriusan pihak sekolah untuk menjamin keselamatan kami. Tapi, namanya bunda, ia tetap saja penuh kekhawatiran pada keselamatan anaknya. Raut wajahnya tampak sangat mencemaskan puteranya yang berkeras untuk tetap pergi.

***

Tak lama berselang setelah perpisahan ‘Sabtu-Minggu’ itu, perpisahan ‘jauh’ benar-benar terjadi. Kali itu bukan camping di pinggir kecamatan. Tapi saya harus terbang menyeberangi lautan. Untuk melanjutkan studi ke sekolah dambaan. Tak terbayangkan bagaimana perasaan bunda melepas bocah kecilnya sejauh itu.

Satu tahun berselang, di sebuah libur panjang sekolah, saya kembali bertemu bunda. Sejuk wajahnya dan binar ketulusannya masih sama. Pehatian dan kasih sayangnya pun belum berubah. Cuma mungkin penampilannya sedikit berubah. Kilau perak mulai terselip di rambutnya.

Sejak saat itu, dengan dalih cita-cita, berulang kali saya meninggalkanya. Berulang kali beliau harus membekap kerinduan, memasung rasa kasih pada buah hatinya. Pada saat saya tergelak tertawa dengan konco sekodan, mungkin bunda sedang tenggelam dalam isak tangis kerinduannya. Saya sendiri, bukan tidak rindu padanya, warung bubur kacang ijo gang Masjid mungkin pelampiasan paling manjur, kalau rasa kangen padanya sedang meradang. Maklum setiap libur sekolah bunda selalu setia menanti dengan bubur ijo kesukaan puteranya. Jauh hari sebelum puteranya datang, berkilo-kilo kacang ijo sudah dipesannya untuk putera tersayang, yang belum jelas tanggal kedatangannya.

Saat melihat ibu-ibu lanjut yang berjalan sendiri di keramaian pasar, ingin rasanya menyapa mereka, mengajak bersenda-gurau, sambil berharap bunda juga diperlakukan ramah pula oleh lingkungannya. Kala menjumpai nenek yang beringsut membawa belanjaannya, terketuk keinginan untuk menawarkan bantuan, karena terbayang bunda yang tertatih-tatih dengan bebannya. Jika sudah mengkhayal begini, pertanda kerinduan padanya telah mengkristal. Cuma doa yang mampu dirangkum saat itu, semoga Allah Yang Menguasai langit dan bumi, menjaga dan menyayangi bunda.

Bila melihat pertikaian di tengah kampung kami, berbicang dengan bunda adalah solusi terbaik.

“Jangan pikirkan apa pelakuan orang yang mendzalimi kita, pikir saja kekhilafan kita, coba memperbaiki diri, jangan menghiraukan kata-kata sampah yang datang dari kaum jahil, persekongkolan para pendengki para itu sudah jelas sejak perang Khandaq. Belajarlah untuk menjadi hamba yang tulus, yang tak terganggu dengan perlakuan manusia, tapi niat karena-Nya harus benar, jangan pernah berharap pada makhluk.”

Plong. Kepala yang tadinya cekot-cekot sepulang melihat perseteruan di balai desa langsung terobati.

Berbicara tentang ketulusan, ketulusan seorang ibu mungkin nomor satu. Saat bayi lemah tanpa gelar kesarjanaan itu lahir, dengan penuh khidmat, kasih sayangnya mengalir lancar tanpa pamrih. Menabur benih kebaikan kepada makhluk yang ‘bukan siapa-siapa’ memang aneh di era kapitalisme ini. Tapi itulah bunda, yang tak melihat apa yang akan didapatnya dengan membesarkan kami. Memperoleh senyum manis kerabat saat kenduri tetangga mungkin sudah lumrah, tapi mendapatkan perhatian penuh kasih bunda saat demam meradang menjelang subuh, itu baru luar biasa.

***

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan bertanya :
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Tanyanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Tanyanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu”
Kemudian tanyanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau mejawab, “Bapakmu.”
(Muttafaq ‘alaih).

***

Oleh : Mu. Abdur Razzaq

I am Indra

was born in Jambi, May 24th 1978. But I spend my childhood till teen in Bukittinggi City and finised my elementary and high school there too. Currently living at Jakarta, Indonesia. Now one I am working as a Web Programmer and as a Lecturer. More



Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :