Arti Seorang Sahabat

Written on October 8, 2005 – 12:00 am | by Indra Koto | 5,740 views

Akan merasa sunyi seorang yang tidak memiliki sahabat, dan sia-sia orang yang menahan diri untuk tidak mencarinya. Lebih sia-sia lagi, orang yang telah mendapatkan sahabat, kemudian ia menyia-nyiakannya.
(Hilal bin ‘Ula Al-Raqy)

Matahari sudah condong ke sebelah barat. Berdua dengan Sari, saya menyusuri
jalan menuju stasiun. Pengumuman kereta akan segera datang telah terdengar,
kami berdua semakin mempercepat langkah. Alhamdulillah masih bisa dikejar. "Kamu
sudah beli karcis belum," tanya Sari. "Nggak sempat, nanti kucing-kucingan
saja kalau ada petugas," jawab saya ringan, kaki sudah hampir masuk ke
gerbong, tapi Sari malah menarik saya menjauhi kereta. Kereta berangkat. "Kenapa
ngga beli karcis dulu," kali ini mukanya agak keruh. "Kan ngga sempat,
lihat tuh, mana antri lagi, males," mata saya mengarah ke tempat penjualan
karcis. "Ya sudah tunggu disini."

Sari bergegas pergi, dan dengan tidak enak hati saya memandangi punggungnya
yang menjauh. "Berapa lama, waktu antri untuk membeli karcis," katanya
ketika tiba di hadapan saya, tangannya menyodorkan karcis. "Sepuluh menit"
singkat saya. "Gara-gara sepuluh menit, kamu bisa jadi antri di neraka".
Drrrrr, gemetar juga ditembak telak seperti itu. "Dan saya nggak mau ikut-ikutan
antri disana, gara-gara nggak ngingetin kamu," tambah Sari. Saya diam,
kena setrum sepertinya. "Sudahlah, lain kali jangan curang!" perintahnya,
kali ini dia memandang saya penuh arti.

Kalau terkenang dengan peristiwa tadi, saya selalu bergumam "Alhamdulillah…
saya mempunyai sahabat". "Eh ada yang kangen ingin berjumpa dengan
mu lho, mendengar rayuan mautmu, melihatmu mengemis memohon cinta. Ayo bangun.
Tahajud euyy!!!" itu isi SMS dari seseorang yang baru saya kenal beberapa
bulan. Pesan yang terus menerus dikirimnya selama hampir 1 minggu, pada jam
03.00 pagi, tidak kurang. Sebuah SMS yang sebelumnya diawali dengan misscall
beberapa kali. Awalnya saya sempat merasa terganggu dan menyembunyikan HP dibawah
bantal agar bunyinya tidak terdengar.

Ketika saya membalas SMS-nya dengan "Tidak sayang pulsa tuh, mengganggu
ketenangan orang", SMS-nya pun datang, "lho katanya kamu sedang punya
banyak masalah". Sangat singkat, mengingatkan bahwa 2 hari yang lalu saya
curhat kepadanya.

Sekarang, kala mengingatinya, juga selalu hati ini berujar "Alhamdulillah,
saya memiliki sahabat yang demikian….". Ini kisah yang saya dengar dari
seorang muslimah. Suatu ketika, dia dan alumni pengurus Rohis SMA, berkumpul.
Salah seorang rekan dari pengurus semasa Rohis (sebut saja A) baru saja meninggal,
dan mereka baru tahu keadaan ekonomi keluarganya ketika melayat ke rumah A.
Ternyata A ini tulang punggung ekonomi keluarganya, selain yatim, ibunya hanya
berjualan ala kadarnya. Ibunya bercerita, salah seorang adiknya hampir mau ujian
tapi karena tidak ada biaya, akhirnya gagal merampungkan sekolah.

Dibahaslah solusi untuk meringankan beban ibunda A, dengan sebelumnya beberapa
rangkaian taushiyah bergulir. Semua yang hadir larut, banyak air mata di sana.
Air mata cinta. Diakhir pertemuan, terkumpullah materi yang tidak sedikit, perhiasan,
uang, sepeda motor, sepeda, dan sepasang sepatu baru. Kita pasti tahu kisah
selanjutnya, si ibu tak henti menangis, dan hampir tersungkur di hadapan mereka.
Allahu Akbar.

Sungguh kisah tadi seperti pesan yang disampaikan seorang ulama, "Persahabatan
antara orang-orang mukmin, menyatunya kalbu mereka, dan kecintaan yang terjalin
diantara mereka merupakan karunia Allah bahkan juga termasuk taqarrub, dalam
ketaatan yang paling agung
" Dan Alhamdulillah, Almarhum A ini mempunyai
sahabat seperti mereka…

Dunia menjadi penuh makna ketika kita mempunyai banyak sahabat. Dunia menjadi
berpelangi tatkala banyak sahabat mengelilingi kita. Kahlil Gibran menyebut,
"Kesendirian adalah himpunan duka cita". Tentu saja, karena
manusia dicipta untuk hidup dalam kebersamaan, seperti firman Allah, "Wahai
sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian (terdiri
dari jenis) laki-laki dan perempuan, dan Kami menciptakan kalian bersuku-suku
dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia
diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa
." (QS. Al-Hujurat:13).

Sekali lagi, banyak hikmah yang dapat kita reguk dari persahabatan. Dan juga
perlu diingat, kita harus cerdik pula dalam memilihnya. Dalam era sekarang ini,
ketika ‘fenominul’ begitu menyesakkan hati umat Muslim, menjamurnya narkoba,
pesta muda-mudi, sepertinya kita butuh filter ampuh untuk memilih sahabat. Dan
filter itu bisa begitu ampuh ketika kita mempunyai sahabat yang mampu mendekatkan
diri kita kepada pemilik dari segala filter, Allah.

Memilih sahabat bukan berarti membeda-bedakan manusia. Memilah sahabat berarti
kita menilainya dari karakter dan sifat yang dimilikinya. Sebuah persahabatan
yang nantinya akan terjalin juga tidak seharusnya didasarkan pada parameter-parameter
duniawi saja. Sungguh, ketika kita berjumpa dengan seorang yang berakhlak baik,
menjaga shalatnya, maka itulah parameternya. Dan itulah yang dilakukan orang-orang
shalih terdahulu dalam menimbang siapa saja yang pantas menjadi sahabat baginya.

Ayo, pikatlah sahabat sebanyak yang kita mampu. Sahabat yang tidak menjadikan
kita, manusia yang disebut-sebut Al-Qur’an, "Pada hari si zhalim menggigit
kedua tangannya seraya berkata: Ah, seandainya aku mengambil jalan bersama-sama
Rasul. Malang nian, mengapa dulu aku menjadikan si fulan menjadi sahabat akrabku
".
(Al-Furqan 27-28)

Dan jangan lupa, "shalih sendiri" juga tidak bermanfaat, jadi pikatlah
sahabat yang ketika dia mengenang kita, dia akan berujar "Alhamdulillah,
saya mempunyai sahabat sepertimu…"

Akhirnya, saya sampaikan salam keselamatan untukmu yang berkenan membaca tulisan
ini. Izinkan saya menyebutmu sebagai "sahabat". Saya ingin menggelarimu
"sahabat", panggilan mesra Nabi al-Musthafa pada generasi setia di
zamannya, sapaan akrab terdengar begitu merdu. Sebuah kosa kata indah yang saya
temukan dalam buku "Berbagi cinta dengan para Sufi" sebagai kiasan
bertubi untuk orang yang paling mempunyai makna. Dan sekarang, saya ingin mengadopsinya
untuk anda yang sekali lagi berkenan membaca tulisan ini. Sahabat, semoga Anda
membendaharakan kata ini juga untuk saya. Dan ketika anda menjadi sahabat, tak
akan pernah jengah anda memperingatkan, ketika saya salah melangkah.

(Disadur dari milis.)

Related Posts

Put your related posts code here
  1. 7 Responses to “Arti Seorang Sahabat”

  2. By SidikManjur on Dec 12, 2005 | Reply

    Wanted
    ” Di cari Banyak Sahabat Baik Pria Maupun Wanita
    * Ngaciirrr

  3. By Nisa on Dec 15, 2005 | Reply

    pengalaman nyata–kah? 😀 😀 …alhamdulillah ya punya sahabat yang baik2… jaman sekarang temen seumuran sama nisa yang kayak begitu jarang sekali lho.. 😀

  4. By lilis on Dec 20, 2005 | Reply

    qta perlu sahabat dalam hidup ini…

    🙂

  5. By Aini on Jan 14, 2006 | Reply

    tak ada yang bisa berbagi segala rasa, baik sedih dan senang kecuali dengan Sahabat

  6. By Aini on Jan 14, 2006 | Reply

    tak ada yang bisa berbagi segala rasa, baik sedih dan senang kecuali dengan Sahabat

  7. By Ifah on Feb 23, 2011 | Reply

    iiih sedih ceritanya….

  8. By nanick on Jul 18, 2011 | Reply

    apakah sahabat itu??? knpa sahabat” ku tak ada yang jujur n hanya mementingkan perasaany saja dann apakah bisa mereka ku anggap sahabat …??

Post a Comment

I am Indra

was born in Jambi, May 24th 1978. But I spend my childhood till teen in Bukittinggi City and finised my elementary and high school there too. Currently living at Jakarta, Indonesia. Now one I am working as a Web Programmer and as a Lecturer. More



Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :